Sunday, April 22, 2007

Tragedy Kemanusian

Kasus Mei 2006

Pengungkapan dan penyelesaian kasus Mei 2006, seperti halnya kasus-kasus pelanggaran HAM sebelumnya,juga sekaligus merupakan proses sosial untuk belajar dari sejarah kesalahan masa lalu. Hanya dengan mengungkap kebenaran peristiwa Mei 2006 dan peristiwa sebelumnya sampai kepada peristiwa terbaru sekarang yang sedang dihadapi, bangsa ini bisa menentukan masa depannya dengan lebih baik. Pengetahuan yang benar merupakan prasyarat mutlak bagi korban dan keluarga korban untuk bisa menentukan sikap dan membangun kepercayaan sebagai landasan persatuan nasional. Timor Leste tidak akan menjadi bangsa utuh bila ketidakadilan berlangsung di antara sesama warga negara yang seharusnya diperlakukan secara sama dan sederajat di hadapan hukum. Pembiaran terhadap berlangsungnya ketidakadilan akan menimbulkan ketidakpercayaan rakyat terhadap institusi negara. Persatuan nasional yang dibangun di atas ketidakadilan dan ketidakpercayaan adalah persatuan semu.

Kita tentu tidak berharap peristiwa Mei kelabu 2006 dan peristiwa serupa terulang kembali. Kita juga harus membuktikan, peralihan kekuasaan tidak harus selalu ditandai dengan tragedi kemanusiaan yang memakan korban jiwa , Penuntasan kasus Mei adalah keharusan untuk bisa merumuskan sikap dan kebijakan pemerintah. Bagaimana masyarakat harus bersikap menghadapi pergantian kekuasaan, bagaimana seharusnya struktur dan organisasi Keamanan dan Pertahanan yang tangguh sekaligus menjunjung tinggi hukum dan HAM serta tidak mudah terseret dalam pertarungan kekuasaan, hanya bisa dirumuskan atas dasar pengetahuan yang benar terhadap pengalaman kesalahan masa lalu. Jika tidak diketahui kebenaran tentang "kesalahan" masa lalu, maka kesalahan tersebut sangat mungkin terulang kembali. Tentunya Negara ini tidak ingin seperti keledai yang terperosok dalam lubang yang sama. Untuk itu diperlukan komitmen terhadap kebenaran dan keadilan ,penghormatan terhadap harkat kemanusian serta dilandasi oleh keinginan agar kasus yang sama tidak akan terulang lagi entah dalam bentuk apapun tidak ditolerir dan diantisipasi sedini mungkin dengan melakukan tindakan konkret,tegas dan bertanggung jawab secara transparent dalam setiap langkah kehidupan berbangsa dan bernegara. Kita juag perlu belajar dari pengalaman Negara –negara yang dalam sejarahnya selalu dirundung masalah dan hamper hampir masuk dalam jurang kehancuran bila tidak diselamatkan oleh rakyat dan pemimpin pemimpin yang berjiwa besar. Salah satu contohnya adalah seperti yang dihadapi Indonesia yang perlu kita ambil hikmah dari sejarah kelamnya coba simak kembali saat saat jatuhnya a Suharto yang menjadi salah satu factor utama pemicunya adalah Korupsi ,Kolusi dan nepotisme yang ikut menjerumuskan Indonesia ke dalam kategori "failed state". Namun , korupsi merupakan pintu gerbang utama (main gate) bagi kehancuran suatu negara. Korupsi sebenarnya bukan persoalan yang berkaitan dengan uang semata yang menimbulkan Kerugian (negara). Dalam hal financial. Tetapi korupsi pada hakikatnya adalah penyalahgunaan kekuasaan atau wewenang, selingkuh kekuasaan (abuse of power) dan penyalahgunaan kepercayaan dari rakyat (abuse of trust).


Praktik penyalahgunaan kekuasaan yang telah berlangsung lama dan meluas hampir di semua instansi pemerintah menyebabkan Indonesia gagal untuk mengantarkan rakyatnya meraih kemakmuran, mencicipi keadilan, dan menikmati ketenteraman. Yang lebih mengerikan, korupsi bukan saja telah merugikan rakyat dan menguras aset negara tapi juga telah menjadi sumber penyakit moral yang endemik. Budaya suap yang sebetulnya merupakan budaya rendah berubah menjadi "hukum kebiasaan birokrasi dan pebisnis". Suap atau bribery (Inggris) berasal dari bahasa latin "briba" (sepotong roti yang diberikan kepada pengemis). Sekarang "sepotong roti itu" menjadi rukun kelancaran bagi urusan bisnis dan birokrasi. mengemis Korupsi lewat suap adalah pengemis yang bersandar pada tongkat yang tegak di atas penyalahgunaan kekuasaan. Budaya suap mengakibatkan rakyat kehilangan gairah untuk berkompetisi secara sehat. Kreativitas dan inovasi tidak lagi menjadi jembatan meraih prestasi dan harga diri. Mencari celah untuk kolusi jauh lebih diminati karena hasilnya lebih pasti. Namun, negara harus menderita kerugian luar biasa karena penghuninya hanya birokrasi yang doyan korupsi dan rakyat yang tidak lagi menghargai arti sebuah prestasi dan kompetisi. Ujungnya, Indonesia pas untuk ditahbiskan sebagai negara yang gagal.


Mengetahui peristiwa sebenarya yang terjadi di Indonesia tidak begitu beda dengaan apa yang sekarang terjadi disini bahkan akan lebih buruk bila adanya signal atau tanda jatuh kedalam perang saudara kembali seperti dalam masa perang dingin tahun 1975 tetapi semoga hal itu tidak akan terjadi karena sudah cukup penderitaan yang dialami generasi ke generasi ,rakyat sudah cukup menderita dan kita tidak ingin persatuan bersama yang telah dijalin selam 24 tahun sampai kita bisa mendapatkan kemerdekaan lagi menjadi bahan olokan dan bahan untuk kampanye politik dari orang orang yang yang tidak ingin melihat kemajuan Timor Leste bahwa kita gagal dan kita seharusnya dijajah lagi atau kita seharusnya lebih baik dibawah aturan Indonesia dan lain-lain politik propaganda dan agitasi yang hanya akan menambah hilangnya kredibilitas negara ini di mata dunia International dan kita akan betul betul dikucilkan karena ketidak siapan dan ketidak mampuan kita kalau memang sampai kita terpuruk dan jatuh kembali ke dalam perang saudara akibat perbedaan garis politik dan akan terbuktilah apa yang dikatakan oleh jenderal jenderal Indonesia dulu bahwa Timor Timur tidak bisa terlepas dari Indonesia dan bila terlepas maka disana akan muncul kembali perang saudara kalau sudah begitu dimana perjuangan panjang kita selama 24 tahun apakah perjuangan itu akan sia sia saja dan akannkah dunia mencatat dalam sejarahnya tentang suatu negara yang gagal yang suatu saat nanti akan dibaca oleh anak dan cucu kita tentang kekeliruan besar dan kebodohan yang diwariskan kepada mereka dan jangankan anak cucu kita nanti kita yang sekarang hidup dialam kemerdekaan sekarang saja menyesal dengan kekeliruan masa lalu yang membuat kita harus menderita dari generasi ke generasi ,sejak dari pendudukan Portugis,Perang saudara yang dikenal dengan Maun alin fahe malun alias Manufahe,perang melawan pendudukan Japan, Perang dingin yang melibatkan kita harus jatuh ketangan Indonesia dan menderita selama masa 24 tahun darisitu apa yang kita dapatkan hanyalah kemiskinan,penderitaan dan tergantung hanya kebaikan orang lain saja .

No comments: